merupakan band beraliran raprock/hiprock asal Jakarta yang terbentuk pada 22 desember 2019 yang dipunggawai oleh Sarom (Vocal), Ricky (Drum), Sinyo (Guitar), dan Reza (Bass).
Embrio Township Rebellion berawal dari Ricky dan Sarom yang sebelumnya tergabung dalam sebuah
band tribute Rage Against The Machine (RATM) yang bernama Unheard Rhyme. Namun sayangnya
Unheard Rhyme harus bubar pada 2017. Hingga pada akhir 2019 mereka memutuskan untuk
kembali membentuk sebuah band tribute dengan konsep yang sama seperti sebelumnya dan
memutuskan untuk mencari personel baru.
Setelah cukup lama mencari personel, bergabunglah Reza sebagai pemain bass yang ditemukan
secara daring melalui forum pencarian personel band di salah satu forum terbesar di Indonesia.
Hingga kemudian bergabung juga Sinyo sebagai pemain gitar yang sebelumnya pernah bermain
dalam satu band dengan Ricky di band lainnya.
Setelah beberapa waktu mengcover lagu-lagu Rage Against The Machine, Kami merasa
membutuhkan karya original agar dapat memenuhi hasrat kami dalam bermusik dan meramaikan
skena musik Indonesia.
Dengan mengangkat tema-tema sosial, akhirnya kami memberanikan diri untuk merelease single
perdana kami yang bertajuk “SUARA TUHAN” pada 3 Juni 2020 melalui platform youtube dan digital
music platform lainnya seperti Spotify, itunes,deezer dll. Single yang di-mastering oleh salah satu
personel BIP Indra Qadarsih ini, menyuarakan perlawanan dan keresahan atas kesenjangan,
ketidakadilan dan isu kesejahteraan yang dialami oleh sebagian besar rakyat indonesia.
Tanpa mengurangi rasa hormat kami pada musis-musisi senior yang telah berkontribusi besar bagi
musik Indonesia, kami berharap karya-karya kami bisa menjadi lampu-lampu kecil yang sedikit
menambah kemeriahan dalam hingar bingar dan pesta pora di skena musik Indonesia, dan
memenuhi hasrat bagi pecinta musik rock pada umumnya. Amin
Sedikit mundur kebelakang untuk sekilas membahas profil band yang berdiri pada
tahun 2008 di
kota Surabaya ini, band yang beranggotakan :
- Hero (Vocal),
- Amrin (Gitar),
- Rommy (Bass),
- Adit (Drum)
Adalah format terakhir semenjak tahun 2017 sampai saat ini .
Straight At Venue sendiri saat ini sudah menyelesaikan proses rekaman untuk
album penuh
terbaru mereka yang ke 2 yang telah dikerjakan sejak awal tahun 2018 sampai
2020 saat ini
tinggal menunggu proses produksi terakhir.
Setelah sukses merilis single ditahun 2017 berjudul "Generasi Indonesiaku"
kini tepat diumur ke
13 tahun Straight At Venue mulai melancarkan strategi barunya dipertengahan
tahun 2020 untuk
setidaknya masih bertahan melahirkan kreatifitas karya berupa single terbaru
mereka yang
berjudul “Untuk Buktikan”.
Single “Untuk Buktikan” masih mengangkat tema lagu tentang semangat dalam
kehidupan
sesuai dengan konsep musik Straight At Venue yang menyuarakan pesan lewat
musik positif.
Sebuah lagu yang siap memotivasi anak muda di era saat ini, dengan bahasa yang
lugas dalam
lirik lagu ini mengajak untuk tetap semangat dan tidak menyerah ketika
menghadapi sebuah
masalah.
Lagu dengan tempo up-beat ala Melodic Punk Rock ini dikemas dengan arransemen
musik yang sedikit berbeda dari lagu lagu Straight At Venue biasanya, Sebuah
lagu yang pas sebagai obat penawar kesedihan ataupun kejenuhan dalam kondisi
saat ini
Harapannya, semoga single “Untuk Buktikan” ini dapat diterima dan menghibur
teman-teman
penikmat musik Straight At Venue dimanapun kalian berada.
Dirilis dihari Jum’at 17 Juli 2020
dalam bentuk Music Video Lyric untuk mendengarkannya secara langsung kalian
bisa menuju ke akun youtube channel https://youtube.com/SAVsurabaya atau klik
tautan yang ada di bio
Instagram @straightatvenue rencananya platform musik streaming/download
digital yang lain
Nicholas Carol Sidabalok.merupaka Anak kedua dari 2 bersaudara.
Lahir ditanggal 29 Januari 2013.
"Saya bertempat tinggal di solo bersama ke dua orangtua saya Doni Pendapatan Sida balok dan Ibu saya Ari sirait. Dari kecil saya anak yang aktif dan atraktif." Ungkapnya.
Nico (nama panggilannya) suka sekali mendengar musik dan menari. Di umur 4,5 tahun di Juni 2017 Nico di ajak Opung (sebutan mbah dalam bahasa batak) & mamanya ke sebuah tempat les musik yang tidak terlalu besar di kota saya, Solo.
"Saya diajak untuk melihat dahulu berbagai alat musik dan bagaimana cara memainkan beberapa alat musik tersebut. Dan akhirnya saya memilih drum dan tertarik oleh drum, karena drum suaranya keren dan bisa dipukul-pukul.", Sambungnya kala itu.
Menurutnya, drum adalah alat musik pukul yang menyenangkan. Karena drum pula Nico yang pemalu, berani tampil dalam beber
apa acara outing class yang diadakan oleh tempat kursus les drumnya.
"Saya tampil pertama kali di mall kecil di kota saya. Saya juga bermain drum di gereja. Saya senang dan akhirnya lanjut bersemangat untuk bermain drum terus hingga kini." Melengkapi pernyataan sebelumnya.
"Mama saya sering memperlihatkan orang2 bermain drum di gedung-gedung besar, mengiringi orang-orang bernyanyi dan bermain musik. Saya berpikir suatu haripun saya akan menjadi seperti mereka mengiringi musik dan orang bernyanyi. Dan karena itulah saya bercita2 menjadi seorang drummer. Supaya duitnya banyak.." Sebagai penutup obrolan kami.
College Rooster merupakan band lokal jebolan Homeband FISIP UB yang dibentuk pada tahun 2017 dan berbasis di Kota Malang. Band ini beranggotakan 4 orang personil yang memegang instrumen vokal, gitar, bass dan drum.
Pada bulan Maret tahun ini, College Rooster baru saja menyelesaikan single ketiganya dengan judul "You See That Guy in MRT?". Single bernuansa gritty emo punk dengan sedikit transisi math-rock ini diproduksi oleh Up Music Production dan sudah dirilis di semua platform musik digital pada tanggal 28 Juni 2020.
Kami akan sangat berterimakasih dan menghargai pertimbangan Anda untuk bisa membantu kami mempromosikan musik College Rooster di platform musik milik Anda. Berikut merupakan lampiran yang bisa membantu Anda untuk lebih mengenal kami :)
Dibentuk pada tahun 2017, College Rooster terdiri dari sekumpulan mahasiswa yang merasa datar dengan kehidupan perkuliahan. Band ini beranggotakan Bima (Vokal dan Gitar), Valdo (Bass dan Backing Vocal), Ghiffari (Gitar) dan Rafsa (Drum). College Rooster merupakan tempat bagi mereka untuk meluapkan emosi mereka dalam bentuk musik emo, pop punk dan alternatif yang disusun secara indah. "You See That Guy in MRT?"
Lagu ini menceritakan tentang rasa sakit, kemarahan, dan kesedihan yang datang dari masa lalu kita, terjebak di pikiran dan menghancurkan hidup secara perlahan. Terdapat luka yang terus membekas, terlukis dalam hidup kita dan tak terhapuskan. Kami ingin mencoba memvisualisasikan makna lagu ini dalam bentuk seorang pria yang duduk sendirian di dalam MRT. Perasaan emosional, dikemas dalam musik punk rock yang energik dengan beberapa nada emo yang gelap. Lagu ini bisa menyeret Anda ke palung hati nurani Anda yang terdalam.
Lagu “Seperti Dirimu” diciptakan Danes sebagai ungkapan rasa terima kasih kepada papa
mamanya yang telah merestui dan mendukung Danes dalam bermusik, karena bagi Danes
dukungan dari orang tua sangatlah penting dan berarti.
Musik dalam single ini digarap oleh Dygo dan Budi Drive dengan konsep musik minimalis
orchestra.
Budi memainkan seluruh track piano, dan lalu dibantu oleh Ava Achdinanti sebagai
strings arranger membuat nuansa orkestra yang memperindah lagu ini.
Dibutuhkan dua hari
untuk merekam keseluruhan musik dan vokal.
Semoga single “Seperti Dirimu” ini dapat diterima oleh masyarakat dan bermanfaat untuk kita
semua.
Composed: Danes Rabani
Music: Jibaku Production
Instagram : @danesrabani
Youtube Channel : Danes Rabani
Facebook : Danes Rabani
Contact Person (+62) 812 1122 7707 (Swara Mangement)
E-mail : swara.mgmt@gmail.com
Like, dan juga Subscribe channel YouTube kami, nyalain juga ikon loncengnya agar dapat notifikasi dari kami, karena InshaAllah kami akan merilis lagu selanjutnya, link ada di bio profil kami
ditugaskan oleh teman-temannya untuk mencari nama band ini. Menurut filosofinya, Epigraph
tersebut mempunyai arti prasasti atau fosil. Tidak memungkiri bahwa kami sebagai manusia saat ini,
terlahir dari turunan nenek-nenek moyang kami terdahulu, yang mungkin saat ini sudah menjadi
fosil atau prasasti.
Formasi Epigraph pada tahun tersebut diantaranya, Iweng (vokal), Hilmi Imiw (gitar), Raka Acil
(drum) dan Wawan (gitar). Band ini tidak pernah lepas dari mana berasal, yakni daerah Cileunyi,
Kabupaten Bandung lah menjadi romansa kami untuk memulai semuanya. Seperti halnya agresi anak
muda pada saat itu, kami memutuskan untuk mengambil genre metal hardcore.
Pada latihan saat itu kami banyak memainkan lagu-lagu band idola kami, diantaranya Lamb Of God,
As i lay dying, Chimaira, dan Sepultura.
Hasilnya kami memiliki dua lagu yang selalu kami bawakan di beberapa panggung kami, single pertamanya adalah bertajuk Siksa Jiwa, dan yang kedua adalah Propaganda Moral Religion.
Line up tersebut hanya bertahan selama tiga tahun, pada tahun 2015 Wawan sang gitaris
memutuskan untuk memilih kesibukannya dalam pekerjaan yang lain, maka dari itu dengan berat
hati Wawan harus meninggalkan band ini.
Dengan kondisi hanya bertiga kami sempat menghajar beberapa gigs yang ada di Bandung. Tidak
bertahan lama, Iweng memutuskan untuk mengajak teman satu kampusnya untuk mengisi
kekosongan gitar, ialah Anjar Jambrong. Sempat menghajar beberapa panggung, Jambrong mampu
beradaptasi dengan Epigraph. Namun disayangkan Jambrong hanya bertahan hingga tahun 2016,
setelah itu ia memutuskan untuk tidak bersama lagi, dengan alasan karena kesehatannya.
Dengan itu kami kembali menghajar jalanan scena musik Bandung dengan hanya bertiga, namun
tetap brutal dan berbahaya. Memasuki tahun 2017, kami memulai agresi baru yakni dengan bantuan
seorang bassist yang bernama Reza dari band Syncronic.
Reza hanya mampu mengikuti kami pada gigs Road To Hellprint, setelah itu kembali ia memutuskan untuk tidak pada band ini.
Tidak patah arang, Iweng kembali mecoba menghubungi teman satu bandnya dahulu, ialah gitaris
yang bernama Zicky Ramadhan. Setelah itu Iweng memanggil Hap-hap teman satu kampusnya untuk
mengisi kekosongan pada bass. Hap-hap juga merupakan gitaris dari band grindcore Hellmouth.
Tambahan amunisi baru, formasi pada 2017 diisi oleh Iweng (vokal), Hilmi Imiw (gitar), Raka Acil
(drum), Zicky (gitar), Hap-hap (bass). Dengan formasi tersebut, kami sempat menghajar andalas
beberapa panggung Super Rawk Festival 2017 di beberapa titik selama dua minggu.
Bahkan pada titik pertama di Sadang Serang, kami mendapatkan predikat band terbaik dengan juara 4. Namun setelah menghajar beberapa panggung di Super Rawk, di event terakhir super rawk Zicky
memutuskan untuk hengkang, dan memilih fokus untuk band terdahulunya. Melihat posisi gitar
kosong, melalui rapat bersama memutuskan Hap-hap untuk mengisi kekosongan gitar. Karena kami
tahu kualitas Hap-hap di band grindcore nya sebagai gitaris.
Posisi bass yang kosong, Iweng kembali bergerilya mengontek teman lamanya Arab Salman yang
saat dahulu pernah bermain satu stage pada event tahun baru. Kami memutuskan untuk Arab
mengisi posisi bass di band ini. Namun sangat disayangkan dimasa-masa sedang menggarap EP
album, Arab memutuskan untuk tidak bersama lagi bersama kami.
Dengan kekosongan pada bass kami tetap merampungkan materi EP album yang berhasil kami track
di Home Recording “ Depthbase Record “ yang kebetulan milik salah satu teman kami Hamzah.
Pada saat perjalanan proses recording, kami sangat kaget mendapat undangan dari Bloods Record
untuk maen di event Jakcloth Jakarta di stage Bloods.
Langsung kami berinisiatif mencari bass edisional, dan dapatlah dari teman satu kampus Iweng yaitu, Ozan Felixdari Respect Minority. Ozan membantu kami pada event Jakcloth dengan apik. Pada event Jakcloth kami satu stage dengan band idola kami asal New York America, Madball Hardcore. Namun memang ferform mereka berbeda hari dengan kami, meski demikian hal tersebut tetap menjadi kebanggan bagi kami bisa satu stage bersama band-band yang kami cintai.
Diawal tahun 2018 tepatnya pada tanggal 26 Januari yang bersamaan juga anniversary kami yang ke
5 tahun, Alhamdulillah EP album kami yang bertajuk “Aggresive Ressurection” sudah bisa di nikmati untuk kalian pecinta Metal dengan dibalut nuansa Hardcore.
Setelah peluncuran EP Album, kami memutuskan untuk merekrut Ozan Felix sebagai personil tetap
kami. Sehingga dimulai pada tahun 2018 formasi kami sangat bringas,
berisikan :
- Iweng (vokal),
- Hilmi Imiw (guitar),
- Raka Acil (drum)
- Hap-hap (guitar), dan
- Ozan Felix (bass).
Formasi tersebut bertahan hingga saat ini tahun 2020. Hasilnya tepat pada tanggal 12 April 2020,
kami berhasil memuncratkan salah satu single untuk album terbaru kami dengan bertajuk “Unreal”.
Single tersebut di rilis melalui platform Youtube, dan memang rencannya akan di rilis juga bersama
dengan platform-platform lainnya.
Cheeeeeerrssss \m/
Hippolyta merupakan band pop punk asal bogor yang di bentuk pada Juli 2019. Nama hippolyta di ambil dari seorang wanita perkasa yang memerintah Amazon, sebuah suku pejuang yang hanya beranggotakan wanita. kami berharap dengan nama Hippolyta ini yang sangat kuat dan kejam bisa mengemas musik yang kejam untuk para penikmat musik. Hippolyta terdiri dari Raka (Vokal+Guitar), Hafid (Guitar), Aldi(Drum).
Hippolyta telah merilis single perdana yang berjudul "Edukasi". di lagu "Edukasi" ini hippolyta featuring dengan rapper sekaligus penulis lyric "Edukasi" yaitu Baka Herga. lagu ini bercerita tentang bangkitnya sebuah kelompok/band yang berlarut – larut terpuruk di karena kan masa lalunya yang gagal. dengan komposisi yang sederhana serta lirik yang memberi pesan semangat untuk bangkit lagu ini menjadi single perdana hippolyta.
proses penggarapan single "Edukasi" berlangsung sejak 2018. Namun pengerjannya sempat tertunda karena ada suatu hal yang menyebabkan kami sulit untuk berkumpul. lagu "Edukasi" telah rilis dan bisa di dengar di beberapa digital platform seperti : Spotify, Itunes, Youtube, JOOX dan digital platform lainnya Kita ingin memberikan warna baru di industri permusikan dan ingin membuktikan bahwa musik yang kami buat layak untuk di dengar.
Belangkon Haji Unit band SKA Bandar Lampung di tahun 2017 telah merelaese dan launching album betajuk ”WAKE UP RUDEBOYS” yang melahirkan enam track lagu andalan.
Dan dari awal terbentuk album “WAKE UP RUDE BOYS” mulai banyak aktivitas panggung sana-sini ditambah kesibukan pekerjaan tiap masing-masing personil, sehingga belum sempat terfikirkan untuk membuat music video, namun karena seringnya pertanyaan dari teman-teman di tahun 2019 baru terfikirkan untuk merealisasikan music video.
Belangkon Haji sepakat memilih satu track (Working Class) dalam album ini dan membuat sebuah music video untuk para pekerja keras yang selalu berjuang untuk keluarga dan sanak family. Melalui music video ini mengajak untuk selalu berjuang dengan pekerjaannya agar bisa mencapai sesuatu yang diinginkan.
Lagu working class dibuat sebagai penyemangat untuk diri sendiri ataupun orang lain (para pekerja) yang selalu bekerja. Fred perry, tracest, dan boots di pakai sebagai simbol untuk para pekerja keras yang senantiasa selalu berjuang untuk keluargannya.
Pengambilan gambar dalam music video ini dari beberapa tempat yang memang cocok dengan penggambaran kelas pekerja seperti jalan raya dan Pusat keramaian.
Music video ini dirilis tanggal 1 Mei bertepatan dengan hari buruh sedunia (MAYDAY). Dengan adanya music video ini harapan kita semua ada penghargaan atas kerja keras dari pekerja dan buruh!!
Regards,
Belangkon Haji
DIRECTED BY
Video Direct : Fahmy Sas
Cameraman 1 : Fery Setiawan
Cameraman 2 : Wimpy Anggreiawan
Editor : Fahmy Sas
Property : Guruh Aldo Pratama / Yudhi Arab
Setelah melakukan tour yang bertajuk “ mengitari jawa part 1 “ , band @sepatukotormusic asal
kota suwar-suwir jember jawa timur yang ini merilis EP pertama mereka di platfom digital seperti
spotify,joox,i tunes dan lain-lain .
Sebelum nya EP pertama mereka sudah dirilis secara fisik pada
tanggal 12 februari lalu yang dirilis oleh @morfeen.official . EP pertama mereka yaitu berjudul “
LOVE HIBERNATION “ yang diambil dari kejadian nyata dan yang dialami mereka pada saat remaja .
Kebanyakan orang lelah dan trauma dengan yang namanya cinta tetapi mereka merangkum lelah
dan trauma nya di ep “ LOVE HIBERNATION “ ini . Mereka berterimakasih kepada mantan sehingga
EP ini bisa di buat . Segera dengarkan dan nikmati ep terbaru mereka di digital platfrom kesayangan
kalian . enjoooy !!
The Talking adalah grup musik asal sawah besar, jakarta pusat . Grup musik ini
dibentuk pada 15 september 2017 dan bergenre Hiphop .
The Talking artinya berbicara dan tercipta dari setiap apa yang kita rasa dari diri sendiri atau lingkungan sekitar tentang realita hidup, cinta, impian, mungkin kesedihan yang pasti apa yang dialami manusia selama hidup dan hanya kenyataan yang kami buat kedalam setiap lagu The Talking, karena berbohong itu dosa.
“ Kami hanya berawal dari penikmat musik dan jam terbang minimalis kurang eksis takut
narsis “
• Profil The Talking
Nama grup musik : The Talking
Tanggal terbentuk : 15 September 2017
Genre : Hiphop
Alamat : Sawah Besar, Jakarta Pusat
Email : rpahlevie92@gmail.com
Contact Person : +62812 9409 9225
Personil : • Muhammad Syahreza Pahlevi a.k.a ZLevie
• Pandu Lesmana a.k.a Steven_Dru
Tentang Lagu :
“ Kenapa, apa, bagaimana ( wanita ) ; tercipta dari apresiasi kita terhadap kaum hawa
atas semua hal yang tidak bisa kita sebutkan tentang posisi sebagai wanita teruntuk ibunda.
Karena dari zaman dahulu hingga sekarang wanita selalu menjadi korban setiap perkembangan
sejarah. Dan kini wanita masih menjadi korban atas pola pikirnya sendiri dengan alasan
kemajuan, mereka hanya sibuk untuk terlihat indah dimata, padahal tanpa mereka sadari
teramat penting kehadiran mereka dalam kehidupan untuk rdan sekitarnya, inner beauty
kecantikan berkelas " Menurut salah satu personel THE TALKING .
3 Darah muda yang menamakan grupnya sebagai The Simple Music, akhirnya merilis single perdananya yang bertajuk Lost Boy.
Mereka adalah :
~ Zaini Zidane (vocal/guitar),
~ Dimas Ikhsan (Bass), dan
~ Rafi Mustaqim (drum).
“Kita mengartikannya permainan musik yang mudah. Kita membuat irama yang sangat mudah untuk diperdengarkan orang lain. Simple diambil dari simple present tense yang selalu ada saat pelajaran bahasa inggris. Music hanya kita tambah tambahkan saja”, ungkap Zaini sebagai alasannya memilih nama The Simple Music.
Single Lost Boy dengan genre rock n roll ini memperdengarkan sound yang vintage, dengan bumbu surf rock yang sangat kental. Lagunya sendiri bercerita tentang kisah patah hati pria muda yang berpisah dengan pasangannya, namun harus tetap semangat melanjutkna hidup. “happy sad song sih haha” ungkap para personil. Single ini kabarnya dikerjakan dalan kurun waktu satu tahun, sebagian besar terjadi kelalaian karena keluguan mereka dalam dunia produksi musik.
Single Lost Boy akan menjadi perkenalan The Simple Music, yang akan dapat didengar pada tanggal 10 April 2020 di Spotify, iTunes, Deezer, Joox, dan Digital Streaming Platform lainnya. Rencananya akan merilis EP dalam jangka waktu dekat
Compadres, band indie asal Ibu Kota yang beberapa waktu
lalu merilis single "Someday Monday" yang liriknya dianggap
"mendahului" terjadinya kisah pandemi Covid 19, kini hadir
kembali di kancah indie pop tanah air dengan merilis sebuah
single baru yang berjudul "Terbiru".
Dalam single terbarunya ini Compadres menawarkan ambience yang tidak kalah fresh dari single-single
sebelumnya.
Fusi californiana, 70's american rock dan city
pop seakan memberikan warna yang mengasyikan untuk
mengiringi cerita asmara, dibalut dalam lirik yang menjauhi
perspektif klise lagu cinta yang jamak terdengar khalayak
umum.
"Terbiru" adalah lagu cinta pertama yang dirilis oleh band yang
pernah mengisi soundtrack film Gundala ini.
Band yang saat
ini diperkuat oleh :
~ Adhi Rahman (keyboard, vokal),
~ Gilang
~ Pramudya (gitar, vokal),
~ Viqi Fauzi (gitar, vokal),
~ Hario
~ Nugroho (bass) dan
~ Riza Bachri (drum),
seakan ingin terus
memperkaya katalog musik dan lagu mereka.
"Terbiru" seakan
menjadi salah satu realisasi keinginan mereka tersebut. Terbiru dirilis di tengah-tengah masa penggarapan album penuh Compadres mendatang. Compadres masih
menyimpan banyak kejutan untuk karya-karya selanjutnya.
98 CHAOS (Ninety Eight Chaos) adalah band beraliran Pop-Punk/Alternative asal Bandung yang didirikan pada tahun 2017 dan beranggotakan Gibran Isa Ramadhan (Vokal/Rhythm Guitar), Bagas Firdaus (Vokal/Bass), Dhimas Mahardhika (Lead Guitar), dan Wildan Sutisna (Drum). Semenjak berdiri, 98 CHAOS kini total telah memiliki 3 buah single, yaitu: Bodoamat (2017), Come Home (2020), dan yang paling baru dirilis adalah Simfoni Sadar Diri (2020).
Simfoni Sadar Diri adalah single ke-3 dari 98 CHAOS yang bebicara tentang janganlah kita bersedih apabila kita dikecewakan saat kita sudah berharap terlalu tinggi pada seseorang, diacuhkan oleh orang yang kita cintai, atau bahkan ditolak cintanya. Hal pertama yang harus dilakukan ketika menghadapi hal tersebut adalah sadar diri. Sadar diri akan siapa kamu. Sadar diri mengapa kamu mendapatkan semua itu.
98 CHAOS menulis lagu ini karena sering sekali mendengar atau mendapat pengalaman tak enak perihal dunia percintaan yang selalu berujung pada kesedihan. Alih-alih menulis lagu yang memotivasi orang-orang untuk semangat mengejar cintanya, 98 CHAOS memilih untuk menulis lagu yang mengingatkan orang-orang untuk sadar diri akan siapa dirinya. Karena bagi 98 CHAOS orang yang menolak kita, tidak merespon kita, atau bahkan mereka yang membenci kita itu tidak selamanya mereka salah, terkadang kita saja yang kurang sadar diri akan siapa diri kita sehingga kita dijauhi/ditolak.
Single ini cukup berbeda dari single 98 CHAOS sebelumnya yang berjudul "Come Home". Apabila di dalam lagu Come Home, 98 CHAOS lebih banyak menggunakan suara-suara seperti delay pada gitar dan memiliki suasana yang cenderung sedih, dalam lagu Simfoni Sadar Diri, 98 CHAOS dalam segi aransemen akan terasa lebih Pop-Punk. Dapat dirasakan dari pukulan demi pukulan drum yang bertempo cukup cepat dan juga tidak menggunakan suara-suara modulasi yang berlebihan pada pada gitar, hanya distorsi dan suara gitar akustik saja. Suasana lagu Simfoni Sadar Diri juga cenderung ceria, berbeda dari single 98 CHAOS yang sebelumnya. Satu hal lagi yang membedakan lagu ini dengan Come Home adalah Simfoni Sadar Diri menggunakan bahasa Indonesia, tidak seperti Come Home yang menggunakan bahasa Inggris.
Dan sekarang lagu Simfoni Sadar Diri sudah tersedia di Spotify, Apple Music, dan beberapa Digital Music Platform kesayangan kalian.
CREDITS
Song Title: Simfoni Sadar Diri
Artist: 98 CHAOS
Song Writer: Gibran Isa, Bagas Firdaus
Arranged by: Gibran Isa, Bagas Firdaus, Dhimas Mahardhika, Wildan Sutisna
Records: Licko Music
Mixed & Mastered by: Irza Nugraha
Subscribe 98 CHAOS for more https://www.youtube.com/channel/UCzF1sriw-Qqt773wA65Dacg
PRESS RELEASE: Fantastic June – Dancing with the Flowers (2020)
Fantastic June merupakan one-man indie-bedroom-pop/rock project dari Ridwan Yuniardhika. Proyek
musik ini dimulai sejak tahun 2004, dan pada tahun 2007 telah merilis mini-album yang berjudul An EP.
Setelah 16 tahun, akhirnya Fantastic June merilis sebuah full album yang berjudul "Dancing with the
Flowers". Semua materi yang ada di album ini sebenarnya kebanyakan sudah ada dari tahun 2012, dan
seharusnya juga sudah bisa dirilis sejak lama. Namun karena alasan ketidak-fokusan memang proyek musik
ini jadi sempat terbengkalai.
Dancing with the Flowers adalah album yang bercerita tentang perjalanan dari kesendirian hingga menuju
keceriaan kehidupan baru, kerinduan era remaja, serta mimpi-mimpi yang sulit terwujud.
Album ini juga berisi dua lagu lama Fantastic June dari dekade 2000-an yang direkam ulang, yakni “Maybe”
(dulunya berjudul “May”) dan “Bad”.
Lagu-lagu dalam album ini dipengaruhi oleh band-band seperti Athlete, Funeral Advantage, Teenage
Fanclub, dll. Dan proses pengerjaannya dilakukan di rumah dengan laptop, instrumen musik dan softsynth.
Dalam live performance, Fantastic June dibantu oleh Ganesha Mahendra (Funny Little Dream/The Silent
Love) dan Anzarra Djahran (Stereofoam/The Silent Love) sebagai additional musicians.
Album “Dancing with the Flowers” bisa didengarkan melalui :
http://fantasticjune.com/music
Selamat mendengarkan
(Fantastic June, 2020)
www.fantasticjune.com
Fantastic June – Dancing with the Flowers (2020)
Track List:
01. High
02. Maybe
03. Smile
04. Blue
05. Rain
06. The Winner
07. What Do You Want
08. Nothing in this World
09. Merindu Waktu
10. Bad
Artis: Fantastic June
Judul Album: Dancing with The Flowers
Release Date: 11 Maret 2020
All songs written, performed, produced, recorded, mixed and mastered by Ridwan Yuniardhika.
With a big help:
Ganesha Mahendra (Electric Guitar on track 2)
Anzarra Djahran (Keyboard on track 2)
Carryna Pratiwi (Backing Vocals on track 6 & 10)
Artwork & Design by Carryna Pratiwi
Nama Band/Artis: Damon Koeswoyo
Judul Lagu: Ampuni Aku
Penulis lagu: Damon Koeswoyo
Composer: Damon Koeswoyo
Aransemen: Damon Koeswoyo
Produser: Damon Koeswoyo & Tori Sudarsono
Label: SIRKUS RECORDS
Cover artwork: Dayan Hamid [ @dayan_hamid ]
Ketika seorang lelaki melakukan kesalahan fatal atas kesucian cinta sang kekasih maka hanya permintaan maaf yang dapat dilakukan olehnya.
Single Ampuni Aku" karya Damon Koeswoyo ini meng-ilustrasikan momen dimana sang lelaki memohon maaf kepada sang kekasih, dan mengharapkan kesalahannya di ampuni.
Single terbaru yang Damon garap di studio rumahannya ini masih dalam nuansa alternative rock namun lebih terkesan ringan berbeda dengan kedua singlenya terdahulu yang lebih berkesan dark.
Alunan nada lagunya pun sangat mewakili setiap syair dan maknanya, hingga membuat lagu ini enak dinikmati.
Kedewasaan Damon dalam berkarya menjadikan dirinya seorang penggubah lagu yang handal, seperti kita ketahui dalam keluarga Koeswoyo dari mbah Kakung hingga Ayah dan paman-pamannya adalah para penggubah lagu yang legendaris.
“Saya mengharapkan lagu “Ampuni Aku” ini mendapat kesan dihati para pendengar dan biarlah ini menjadi era atau jaman nya saya untuk berkarya terlepas dari warisan karya-karya keluarga saya”.
Salam Musik Indonesia INDIE PREVIEW
YOUTUBE : INDIE PREVIEW
FACEBOOK : INDIE PREVIEW
TWITTER : INDIE PREVIEW
INSTAGRAM : INDIE PREVIEW
BLOGG : www.indiepreviewinfo.blogspot.com
Samarinda, 26 Februari 2020 – Rio Satrio, solois asal Samarinda resmi merilis lagu
yang berjudul MIMPI yang bakal masuk dalam album ke-2 Rio Satrio.
“Lewat lagu Mimpi” Rio Satrio bercerita tentang bagaimana seseorang mempunyai
mimpi yang harus di raih, akan tetapi merasa takut ketika tua nanti mimpi itu belum
terwujud dan tidak bias lagi mengejar mimpi dan semua mimpi-mimpi belum tercapai
di waktu yang di inginkan.
Lagu ini seperti cerminan diri sendiri bagi Rio Satrio, Semua orang pasti pernah
merasa di titik terendah dalam mengejar mimpinya dan takut untuk bermimpi. Rio
Satrio berpesan dalam lagu Mimpi ini, teruslah bermimpi jangan pernah patah
semangat, jangan takut tuk bermimpi, teruslah berusaha, karena di dalam mimpi
tergambar hal indah yang harus kita raih.
Rio Satrio, merasa bersyukur dengan rilisnya lagu Mimpi.
Dan kini lagu Mimpi tersebut dapat dinikmati di kanal youtube Rio Satrio, Spotify, dan ITunes.
Menurutnya tidak ada hal yang lebih indah dari pada berbagi kebaikan dan
kebahagiaan. Dan harapan dengan rilisnya lagu ini dapat menjadi sebuah hal positif
bagi siapa saja yang mendengarkannya. Jadi sudah siap untuk bermimpi bersama Rio
Satrio?
“Terus lah bermimpi hingga mimpi mu menjadi kenyataan” – Rio Satrio
Note:
Rio Satrio baru saja menggelar Intimate Concert yang bertemakan Merilis Mimpi
pada tanggal 25 Februari 2020, Intimate Concert ini adalah ucapan rasa syukur Rio
Satrio atas rilisnya lagu MIMPI.
Instagram : @Riosatrio__
Youtube : Rio Satrio
Contact person: 08567436094 ( Januar )