Epigraph terbentuk pada tanggal 27 Januari 2013.
tersebut mempunyai arti prasasti atau fosil. Tidak memungkiri bahwa kami sebagai manusia saat ini,
terlahir dari turunan nenek-nenek moyang kami terdahulu, yang mungkin saat ini sudah menjadi
fosil atau prasasti.
Formasi Epigraph pada tahun tersebut diantaranya, Iweng (vokal), Hilmi Imiw (gitar), Raka Acil
(drum) dan Wawan (gitar). Band ini tidak pernah lepas dari mana berasal, yakni daerah Cileunyi,
Kabupaten Bandung lah menjadi romansa kami untuk memulai semuanya. Seperti halnya agresi anak
muda pada saat itu, kami memutuskan untuk mengambil genre metal hardcore.
Pada latihan saat itu kami banyak memainkan lagu-lagu band idola kami, diantaranya Lamb Of God,
As i lay dying, Chimaira, dan Sepultura.
Hasilnya kami memiliki dua lagu yang selalu kami bawakan di beberapa panggung kami, single pertamanya adalah bertajuk Siksa Jiwa, dan yang kedua adalah Propaganda Moral Religion.
Line up tersebut hanya bertahan selama tiga tahun, pada tahun 2015 Wawan sang gitaris
memutuskan untuk memilih kesibukannya dalam pekerjaan yang lain, maka dari itu dengan berat
hati Wawan harus meninggalkan band ini.
Dengan kondisi hanya bertiga kami sempat menghajar beberapa gigs yang ada di Bandung. Tidak
bertahan lama, Iweng memutuskan untuk mengajak teman satu kampusnya untuk mengisi
kekosongan gitar, ialah Anjar Jambrong. Sempat menghajar beberapa panggung, Jambrong mampu
beradaptasi dengan Epigraph. Namun disayangkan Jambrong hanya bertahan hingga tahun 2016,
setelah itu ia memutuskan untuk tidak bersama lagi, dengan alasan karena kesehatannya.
Dengan itu kami kembali menghajar jalanan scena musik Bandung dengan hanya bertiga, namun
tetap brutal dan berbahaya. Memasuki tahun 2017, kami memulai agresi baru yakni dengan bantuan
seorang bassist yang bernama Reza dari band Syncronic.
Reza hanya mampu mengikuti kami pada gigs Road To Hellprint, setelah itu kembali ia memutuskan untuk tidak pada band ini.
Tidak patah arang, Iweng kembali mecoba menghubungi teman satu bandnya dahulu, ialah gitaris
yang bernama Zicky Ramadhan. Setelah itu Iweng memanggil Hap-hap teman satu kampusnya untuk
mengisi kekosongan pada bass. Hap-hap juga merupakan gitaris dari band grindcore Hellmouth.
Tambahan amunisi baru, formasi pada 2017 diisi oleh Iweng (vokal), Hilmi Imiw (gitar), Raka Acil
(drum), Zicky (gitar), Hap-hap (bass). Dengan formasi tersebut, kami sempat menghajar andalas
beberapa panggung Super Rawk Festival 2017 di beberapa titik selama dua minggu.
Bahkan pada titik pertama di Sadang Serang, kami mendapatkan predikat band terbaik dengan juara 4. Namun setelah menghajar beberapa panggung di Super Rawk, di event terakhir super rawk Zicky
memutuskan untuk hengkang, dan memilih fokus untuk band terdahulunya. Melihat posisi gitar
kosong, melalui rapat bersama memutuskan Hap-hap untuk mengisi kekosongan gitar. Karena kami
tahu kualitas Hap-hap di band grindcore nya sebagai gitaris.
Posisi bass yang kosong, Iweng kembali bergerilya mengontek teman lamanya Arab Salman yang
saat dahulu pernah bermain satu stage pada event tahun baru. Kami memutuskan untuk Arab
mengisi posisi bass di band ini. Namun sangat disayangkan dimasa-masa sedang menggarap EP
album, Arab memutuskan untuk tidak bersama lagi bersama kami.
Dengan kekosongan pada bass kami tetap merampungkan materi EP album yang berhasil kami track
di Home Recording “ Depthbase Record “ yang kebetulan milik salah satu teman kami Hamzah.
Pada saat perjalanan proses recording, kami sangat kaget mendapat undangan dari Bloods Record
untuk maen di event Jakcloth Jakarta di stage Bloods.
Langsung kami berinisiatif mencari bass edisional, dan dapatlah dari teman satu kampus Iweng yaitu, Ozan Felixdari Respect Minority. Ozan membantu kami pada event Jakcloth dengan apik. Pada event Jakcloth kami satu stage dengan band idola kami asal New York America, Madball Hardcore. Namun memang ferform mereka berbeda hari dengan kami, meski demikian hal tersebut tetap menjadi kebanggan bagi kami bisa satu stage bersama band-band yang kami cintai.
Diawal tahun 2018 tepatnya pada tanggal 26 Januari yang bersamaan juga anniversary kami yang ke
5 tahun, Alhamdulillah EP album kami yang bertajuk “Aggresive Ressurection” sudah bisa di nikmati untuk kalian pecinta Metal dengan dibalut nuansa Hardcore.
Setelah peluncuran EP Album, kami memutuskan untuk merekrut Ozan Felix sebagai personil tetap
kami. Sehingga dimulai pada tahun 2018 formasi kami sangat bringas,
berisikan :
- Iweng (vokal),
- Hilmi Imiw (guitar),
- Raka Acil (drum)
- Hap-hap (guitar), dan
- Ozan Felix (bass).
Formasi tersebut bertahan hingga saat ini tahun 2020. Hasilnya tepat pada tanggal 12 April 2020,
kami berhasil memuncratkan salah satu single untuk album terbaru kami dengan bertajuk “Unreal”.
Single tersebut di rilis melalui platform Youtube, dan memang rencannya akan di rilis juga bersama
dengan platform-platform lainnya.
Cheeeeeerrssss \m/
Nama Epigraph terucap oleh Iweng ketika saat
ditugaskan oleh teman-temannya untuk mencari nama band ini. Menurut filosofinya, Epigraphtersebut mempunyai arti prasasti atau fosil. Tidak memungkiri bahwa kami sebagai manusia saat ini,
terlahir dari turunan nenek-nenek moyang kami terdahulu, yang mungkin saat ini sudah menjadi
fosil atau prasasti.
Formasi Epigraph pada tahun tersebut diantaranya, Iweng (vokal), Hilmi Imiw (gitar), Raka Acil
(drum) dan Wawan (gitar). Band ini tidak pernah lepas dari mana berasal, yakni daerah Cileunyi,
Kabupaten Bandung lah menjadi romansa kami untuk memulai semuanya. Seperti halnya agresi anak
muda pada saat itu, kami memutuskan untuk mengambil genre metal hardcore.
Pada latihan saat itu kami banyak memainkan lagu-lagu band idola kami, diantaranya Lamb Of God,
As i lay dying, Chimaira, dan Sepultura.
Hasilnya kami memiliki dua lagu yang selalu kami bawakan di beberapa panggung kami, single pertamanya adalah bertajuk Siksa Jiwa, dan yang kedua adalah Propaganda Moral Religion.
Line up tersebut hanya bertahan selama tiga tahun, pada tahun 2015 Wawan sang gitaris
memutuskan untuk memilih kesibukannya dalam pekerjaan yang lain, maka dari itu dengan berat
hati Wawan harus meninggalkan band ini.
Dengan kondisi hanya bertiga kami sempat menghajar beberapa gigs yang ada di Bandung. Tidak
bertahan lama, Iweng memutuskan untuk mengajak teman satu kampusnya untuk mengisi
kekosongan gitar, ialah Anjar Jambrong. Sempat menghajar beberapa panggung, Jambrong mampu
beradaptasi dengan Epigraph. Namun disayangkan Jambrong hanya bertahan hingga tahun 2016,
setelah itu ia memutuskan untuk tidak bersama lagi, dengan alasan karena kesehatannya.
Dengan itu kami kembali menghajar jalanan scena musik Bandung dengan hanya bertiga, namun
tetap brutal dan berbahaya. Memasuki tahun 2017, kami memulai agresi baru yakni dengan bantuan
seorang bassist yang bernama Reza dari band Syncronic.
Reza hanya mampu mengikuti kami pada gigs Road To Hellprint, setelah itu kembali ia memutuskan untuk tidak pada band ini.
Tidak patah arang, Iweng kembali mecoba menghubungi teman satu bandnya dahulu, ialah gitaris
yang bernama Zicky Ramadhan. Setelah itu Iweng memanggil Hap-hap teman satu kampusnya untuk
mengisi kekosongan pada bass. Hap-hap juga merupakan gitaris dari band grindcore Hellmouth.
Tambahan amunisi baru, formasi pada 2017 diisi oleh Iweng (vokal), Hilmi Imiw (gitar), Raka Acil
(drum), Zicky (gitar), Hap-hap (bass). Dengan formasi tersebut, kami sempat menghajar andalas
beberapa panggung Super Rawk Festival 2017 di beberapa titik selama dua minggu.
Bahkan pada titik pertama di Sadang Serang, kami mendapatkan predikat band terbaik dengan juara 4. Namun setelah menghajar beberapa panggung di Super Rawk, di event terakhir super rawk Zicky
memutuskan untuk hengkang, dan memilih fokus untuk band terdahulunya. Melihat posisi gitar
kosong, melalui rapat bersama memutuskan Hap-hap untuk mengisi kekosongan gitar. Karena kami
tahu kualitas Hap-hap di band grindcore nya sebagai gitaris.
saat dahulu pernah bermain satu stage pada event tahun baru. Kami memutuskan untuk Arab
mengisi posisi bass di band ini. Namun sangat disayangkan dimasa-masa sedang menggarap EP
album, Arab memutuskan untuk tidak bersama lagi bersama kami.
Dengan kekosongan pada bass kami tetap merampungkan materi EP album yang berhasil kami track
di Home Recording “ Depthbase Record “ yang kebetulan milik salah satu teman kami Hamzah.
Pada saat perjalanan proses recording, kami sangat kaget mendapat undangan dari Bloods Record
untuk maen di event Jakcloth Jakarta di stage Bloods.
Langsung kami berinisiatif mencari bass edisional, dan dapatlah dari teman satu kampus Iweng yaitu, Ozan Felixdari Respect Minority. Ozan membantu kami pada event Jakcloth dengan apik. Pada event Jakcloth kami satu stage dengan band idola kami asal New York America, Madball Hardcore. Namun memang ferform mereka berbeda hari dengan kami, meski demikian hal tersebut tetap menjadi kebanggan bagi kami bisa satu stage bersama band-band yang kami cintai.
Diawal tahun 2018 tepatnya pada tanggal 26 Januari yang bersamaan juga anniversary kami yang ke
5 tahun, Alhamdulillah EP album kami yang bertajuk “Aggresive Ressurection” sudah bisa di nikmati untuk kalian pecinta Metal dengan dibalut nuansa Hardcore.
Setelah peluncuran EP Album, kami memutuskan untuk merekrut Ozan Felix sebagai personil tetap
kami. Sehingga dimulai pada tahun 2018 formasi kami sangat bringas,
berisikan :
- Iweng (vokal),
- Hilmi Imiw (guitar),
- Raka Acil (drum)
- Hap-hap (guitar), dan
- Ozan Felix (bass).
Formasi tersebut bertahan hingga saat ini tahun 2020. Hasilnya tepat pada tanggal 12 April 2020,
kami berhasil memuncratkan salah satu single untuk album terbaru kami dengan bertajuk “Unreal”.
Single tersebut di rilis melalui platform Youtube, dan memang rencannya akan di rilis juga bersama
dengan platform-platform lainnya.
Cheeeeeerrssss \m/























