Datang Terlalu Awal, Dipahami Belakangan
Saya mengenal nama Eramono Soekaryo bukan dari radio, bukan dari playlist algoritma, tapi dari rasa penasaran yang agak iseng. Dari situ justru terbuka satu hal sederhana: musik Indonesia pernah punya fase yang diam-diam sangat visioner, dan Eramono ada di situ.
Beliau bukan tipe musisi yang mengejar sorotan. Justru sebaliknya—terlihat seperti seseorang yang lebih sibuk merancang bunyi daripada membangun citra. Latar belakangnya di Berklee terasa bukan sekadar prestise; itu hidup dalam cara beliau memperlakukan musik. Ada disiplin, tapi juga keberanian untuk tidak ikut arus.
Ketika album Eramono dirilis di akhir 80-an, rasanya itu bukan sekadar kumpulan lagu. Ada semacam pernyataan yang disampaikan dengan tenang: bahwa musik pop Indonesia bisa lebih luas dari formula yang saat itu sedang berjalan. Ada jazz, ada elektronik, ada rasa eksperimental yang ketika didengar hari ini justru terasa kembali relevan.
Yang membuat saya takjub bukan hanya karyanya, tapi juga waktunya. Beliau seperti datang terlalu awal. Dan kita tahu, di industri musik, datang terlalu awal sering berarti belum sepenuhnya dimengerti.
Spirit Band, kalau dilihat dari sekarang, terasa lebih dari sekadar band. Ia seperti ruang eksplorasi, tempat di mana musisi tidak harus menjadi “layak jual” dulu untuk bisa berekspresi. Mungkin itu juga yang membuatnya tidak lama bertahan di permukaan. Karena dunia memang tidak selalu siap untuk sesuatu yang jujur.
Tapi justru di situlah letak nilainya.
Hari ini, ketika Eramono kembali menghidupkan Spirit Band bersama generasi baru, rasanya ini bukan sekadar comeback. Lebih seperti siklus yang akhirnya menemukan titiknya kembali. Musik yang dulu terasa asing, kini seperti menemukan ruangnya sendiri.
Saya merasa ini bukan hanya tentang menghormati sosok Eramono, tetapi juga tentang menghargai waktunya, waktu yang beliau habiskan untuk menciptakan sesuatu yang mungkin belum bisa diterima saat itu, namun tetap dikerjakan dengan keyakinan.
Dan mungkin, di situlah definisi paling jujur dari seorang musisi:
bukan yang paling cepat terdengar,
tetapi yang paling setia pada apa yang ia percaya.
Eramono bukan sekadar bagian dari sejarah.
Beliau adalah pengingat, bahwa kadang, musik terbaik bukan yang paling cepat kita pahami,
melainkan yang tetap bertahan, sampai akhirnya kita siap untuk benar-benar mendengarnya.















