Melalui sambungan telepon, INDIE PREVIEW berbincang dengan perwakilan band AEROCKS mengenai single terbaru mereka, “Mask of Society”, yang resmi dirilis pada 27 Januari 2026. Lagu ini menjadi penanda sikap AEROCKS terhadap realitas sosial modern—keras, jujur, dan penuh kegelisahan.
AEROCKS menjelaskan bahwa “Mask of Society” lahir dari pengamatan mereka terhadap kehidupan sosial hari ini, di mana banyak orang hidup di balik “topeng” demi eksistensi, kekuasaan, dan rasa superior. Menurut mereka, sistem sosial modern perlahan mendorong manusia untuk tampil “baik” di permukaan, namun rapuh dan manipulatif di dalam.
Pada verse pertama, lagu ini menggambarkan dunia yang kehilangan kepercayaan. Kejujuran dan akal sehat bukan lagi fondasi hidup, melainkan tergeser oleh tipu daya dan pencitraan. AEROCKS menyebut bagian ini sebagai potret nyata kehidupan sehari-hari yang kerap kita anggap normal, padahal penuh kepalsuan.
Masuk ke bagian reff, pesan lagu semakin menguat. “Mask of Society” tidak berhenti pada kritik semata. AEROCKS menegaskan bahwa lagu ini adalah seruan untuk bergerak dan melawan. Bagi mereka, diam justru memperpanjang penindasan, sementara keberanian membuka topeng sosial adalah langkah awal untuk perubahan.
Verse kedua memperlihatkan sisi lain dari kegilaan sistem tersebut. AEROCKS menggambarkan kehidupan seperti permainan judi—nasib manusia bisa dibuang kapan saja oleh sistem, tanpa kepastian dan tanpa keadilan. Semakin seseorang bungkam, semakin mudah ia diinjak. Gambaran ini menjadi refleksi pahit tentang bagaimana ketidakadilan sering kali bertahan karena ketakutan dan kepasrahan.
Secara musikal, AEROCKS mengemas pesan tersebut dalam balutan High-Energy Pop Rock yang agresif. Kombinasi dua gitar, bass, dan hentakan drum yang intens memperkuat nuansa perlawanan. Energi musiknya dibuat sejalan dengan amarah dan keresahan yang ingin disampaikan, menjadikan lagu ini bukan sekadar untuk didengar, tetapi untuk dirasakan.
Bagi AEROCKS, “Mask of Society” adalah simbol dunia yang penuh tekanan dan ketidakadilan, namun juga pengingat bahwa manusia masih memiliki pilihan: tunduk atau melawan. Lagu ini menjadi ajakan untuk berhenti menjadi pasrah, dan mulai mempertanyakan kegilaan yang selama ini dianggap wajar.
Dengan perilisan single ini, AEROCKS kembali menegaskan identitas mereka sebagai band High-Energy Pop Rock asal Indonesia yang konsisten menyuarakan keresahan emosional dan realitas sosial, dengan pendekatan modern dan lirik yang dekat dengan pengalaman pendengarnya.














